Tanpa bermaksud mengecilkan
apa yang dikorbankan untuk demonstrasi :) tapi dalam kenyataan yang terjadi sekarang
ini terlihat bahwa demonstrasi telah kehilangan relevansinya. Aksi-aksi
mahasiswa dan ormas, serikat buruh, massa tak dikenal
dan lain-lain yang mengklaim sebagai pejuang masyarakat atau korban
otoritas tirani kini tampaknya hanya menjadi angin lalu. Bahkan
aksi-aksi demonstrasi saat ini, telah mengundang cemoohan akibat
kerugian kolektif secara material atau moril bagi masyarakat luas.
Ban-ban yang dibakar, pagar-pagar yang diruntuhkan, pendopo-pendopo
Pemda dan pos-pos polisi yang dibakar, mulut-mulut yang dijahit, serta
korban-korban yang berjatuhan akibat aksi anarki telah menjadi kenyataan
menyedihkan yang berujung tanpa solusi. Aksi-aksi ini mungkin akan
mengundang wartawan media, tapi tidak membuat keputusan-keputusan publik
berubah. Nihil adalah hasil yang riil. Pemerintah, yang biasanya
menjadi objek demonstrasi, pun telah menjadi kebal terhadap aksi protes
ini.
Maka kesadaraan akan konteks perjuangan menjadi penting. Ini
bukan saatnya mahasiswa dan masyarakat “meruntuhkan tembok”, tetapi
mengisi ruang kosong yang merupakan sisa-sisa keruntuhan tembok kelaliman. Mengisi ruang publik adalah area perjuangan yang lebih
relevan. Menjadi pejabat publik yang amanah, menjadi legislator yang
memperjuangkan kepentingan rakyat, menjadi pengusaha yang membuka
lapangan kerja, menjadi pegawai negeri yang mau melayani masyarakat,
menjadi pegawai swasta yang taat pajak, menjadi aktivis LSM yang tulus
memperjuangkan rakyat, menjadi insan pers yang kritis, konstruktif, dan
tanggung jawab, menjadi oposan yang ikhlas atau bahkan menjadi
pengangguran yang santun adalah posisi dalam ruang publik yang terbuka
lebar pasca Orde Baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar