dandelion ツ

Kamis, 02 Januari 2014

Demonstrasi? Bagaimana? CMIIW ^_^

Tanpa bermaksud mengecilkan apa yang dikorbankan untuk demonstrasi :) tapi dalam kenyataan yang terjadi sekarang ini terlihat bahwa demonstrasi telah kehilangan relevansinya. Aksi-aksi mahasiswa dan ormas, serikat buruh, massa tak dikenal dan lain-lain yang mengklaim sebagai pejuang masyarakat atau korban otoritas tirani kini tampaknya hanya menjadi angin lalu.  Bahkan aksi-aksi demonstrasi saat ini, telah mengundang cemoohan akibat kerugian kolektif secara material atau moril bagi masyarakat luas. Ban-ban yang dibakar, pagar-pagar yang diruntuhkan, pendopo-pendopo Pemda dan pos-pos polisi yang dibakar, mulut-mulut yang dijahit, serta korban-korban yang berjatuhan akibat aksi anarki telah menjadi kenyataan menyedihkan yang berujung tanpa solusi. Aksi-aksi ini mungkin akan mengundang wartawan media, tapi tidak membuat keputusan-keputusan publik berubah. Nihil adalah hasil yang riil. Pemerintah, yang biasanya menjadi objek demonstrasi, pun telah menjadi kebal terhadap aksi protes ini.

Maka kesadaraan akan konteks perjuangan menjadi penting. Ini bukan saatnya mahasiswa dan masyarakat “meruntuhkan tembok”, tetapi mengisi ruang kosong yang merupakan sisa-sisa keruntuhan tembok kelaliman. Mengisi ruang publik adalah area perjuangan yang lebih relevan. Menjadi pejabat publik yang amanah, menjadi legislator yang memperjuangkan kepentingan rakyat, menjadi pengusaha yang membuka lapangan kerja, menjadi pegawai negeri yang mau melayani masyarakat, menjadi pegawai swasta yang taat pajak, menjadi aktivis LSM yang tulus memperjuangkan rakyat, menjadi insan pers yang kritis, konstruktif, dan tanggung jawab, menjadi oposan yang ikhlas atau bahkan menjadi pengangguran yang santun adalah posisi dalam ruang publik yang terbuka lebar pasca Orde Baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar